Sabtu, 27 Agustus 2011

potensi bisnis pulsa listrik prabayar

Potensi bisnis pulsa listrik sangat bagus, Karena PLN lagi gencar mensosilalisasikan Listrik Prabayar, bahkan sekarang program sejuta pemasangan kwh listrik di lakukan di setiap daerah, kedepan tidak akan ada lagi listrik pascabayar semua akan di konversi menjadi penguna Listik Prabayar sekarang ini orang dapat dengan mudah mengakses internet dari komputer maupun dari HP. Jadi tak ada salahnya jika mencoba usaha pulsa listrik online dari sekarang, bisnis ini sangat mudah dan dapat di kerjakan dari rumah. Dengan membuat blog sebagai sarana toko online dan kita tak perlu menyewa toko seperti di pusat perbelanjaan maupun mall, sehingga menekan biaya operasional. Apalagi toko online dapat diakses 24 jam oleh penguna internet. Deangan keunggulan tersebut tak heran harga yang di tawarkan relatif murah.
Bahkan dengan bermodalkan website gratisan ini kita sudah bisa mendirikan toko online. Apa lagi kita rajin memperbaharui dan mempercantik website kita insyallah bakalan bayak yang mengunjungi. Ditambah lagi kita promosikan website kita di search engine di google
Berikut ada beberapa tips kunci sukses toko online
1.Buat tampilan website menarik dan menampilkan beberapa contoh produk terbaru dan harga diskon di halaman pertama
2. Mencantumkan tahapan dan cara pembelian serta proses pembayaran yang dapat mempermudah konsekwensi melakukan pemesanan
3. Berikan info lengkap tentang profil usaha, kontak telepon, email YM yang dapat mempermudah konsimen menghubungi
4. Slalu meng up-date produk di website paling tidak seminggu sekali
5. Jaga kualitas produk dan berikan harga yang kompetitif sehingga dapat bersaing
jika anda mau mencoba bisnis online yang lagi booming di Indonesia saat ini silahkan klik disini
dan setelah anda bergabung anda bisa membuat toko online sendiri dengan membuat web gratisan lihat contohnya disini
 

Hemat Listrik Yuk?! : 
Tips Solusi Hemat Listrik!

Kamis, 18 Agustus 2011

Google Ogah Bangun Pusat Data di Indonesia karena listrik sering byar pet

JAKARTA, KOMPAS.com - Niat Google Inc. berinvestasi di Indonesia rupanya terhambat berbagai masalah. Salah satunya soal pasokan listrik.
Perusahaan raksasa mesin pencari ini mengkhawatirkan kestabilan pasokan listrik. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan mengatakan, Google cemas listrik Indonesia yang sering byar pet.
Menurut Gita, listrik yang sering byar pet ini bisa mengganggu keamanan data Google. "Karena itu mereka tak ingin membangun pusat data di Indonesia seperti yang diminta pemerintah," kata Gita, Kamis (18/8/2011).
Selain itu, Gita mengatakan, Google juga menemui kendala soal pendapatan iklan. Dia bilang, Google ingin ada kejelasan bagaimana sebuah perusahaan asing bisa menjaring pendapatan iklan lewat internet atau portal. Maklum, perusahaan berbasis di Mountain View, California, ini merupakan perusahaan iklan online terbesar.
Gita sendiri optimis kendala investasi yang dihadapi perusahaan ini bisa segera teratasi. "Kami segera selesaikan dan terus melakukan pembicaraan," tegasnya.
Mengenai nilai investasinya, Gita belum merinci. Tapi, lanjutnya, Google sempat mengungkapkan nilai investasinya di Indonesia akan lebih besar ketimbang negara lain seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. "Saya tidak tahu itu 100 juta dollar AS, 200 juta dollar AS atau 1.000 juta dollar AS, tapi yang jelas mereka akan investasi lebih besar," tegasnya.
Direktur Investasi Deregulasi BKPM Indra Darmawan sebelumnya mengungkapkan, ada dua hal masih dikonfirmasi pihak Google kepada Indonesia. Dua hal itu yakni regulasi di bidang periklanan online dan keamanan pusat data.
Menurutnya, Indonesia belum memiliki peraturan yang jelas soal iklan di media online. "Google meminta kejelasan apakah bisa men-generat revenue dari periklanan. Sebab di periklanan online masih belum jelas aturannya," katanya.
Indra mengakui, transaksi internet memang sulit diatur segara rigid. Namun, dia berjanji akan terus mencari solusi bagi investasi perusahaan asal Amerika Serikat ini.
Keinginan Google berinvestasi di Indonesia telah disampaikan kepada Wakil Presiden Boediono. Petinggi Google Eric Schmidt telah membicarakan masalah investasi ini dengan Boedino beberapa waktu lalu. (Irma Yani/Kontan)
 

Learning Understanding Self

Learning Understanding Self

Senin, 15 Agustus 2011

UCAPAN TERIMA KASIH


 
 
PERTAMA-TAMA dan yang utama, bagi sahabat dan editorku, Jason Kaufman, karena telah bekerja amat berat untuk proyek ini dan telah memahami dengan sungguh-sungguh makna dari buku ini. Dan bagi Heide Lange yang tiada banding - jawara tanpa lelah dari The Da Vinci Code, agen luar biasa, dan sahabat yang terpercaya.
 
Aku tak dapat sepenuhnya mengungkapkan rasa terima kasihku pada tim luar biasa di Doubleday, atas kemurahan hati, kepercayaan, dan panduan yang hebat dari mereka. Terima kasih secara khusus bagi Bill Thomas dan Steve Rubin, yang menaruh kepercayaan kepada buku ini sejak awalnya. Terima kasihku juga kepada para anggota inti pertama dari pendukung awal in-house, dikepalai oleh Michael Palgon, Suzanne Herz, Janelle Moburg, Jackie Everly, dan Adrienne Sparks, juga kepada orang-orang berbakat dari divisi penjualan Doubleday, dan juga bagi Michael Windsor untuk cover jaketnya yang mengagumkan.
 
Untuk bantuan murah hati di dalam riset bagi buku ini, aku hendak memberi penghargaan kepada Museum Louvre, Kementerian Budaya Prancis, Project Gutenberg, Bibliotheque Nationale, Gnostic Society Library, the Department of Paintings Study and Docurnentation Service di Louvre, Chatolic World News, Royal Observatory Greenwich, London Record Society, dan the Muniment Collection di Biara Westminster, John Pike, dan the Federation of American Scientists, serta kelima anggota Opus Dei (tiga masih aktif, dua telah mantan) yang membagikan kisah mereka, baik yang positif maupun yang negatif, sehubungan dengan pengalaman mereka di dalam Opus Dei.
 
Rasa terima kasih tak terhingga juga kepada toko buku Water Street yang telah menelisik begitu banyak buku riset saya, untuk ayahku Richard Brown - guru matematika dan pengarang -atas bantuannya dalam hal Proporsi Agung dan Deret Fibonacci, untuk Stan Planton, Sylvie Baudeloque, Peter McGuigan, Francis McInerney, Margie Wachtel, Andre Vernet, Ken Kelleher di Anchorball Web Media, Cara Sottak, Karyn Popham, Esther Sung, Miriam Abramowitz, William Tunstall-Pedoe, dan Griffin Wooden Brown.
 
Dan akhirnya, dalam sebuah novel yang amat banyak mengambil ilham dari konsep sacred feminine atau perempuan suci, akan sangat tak layak jika aku tak menyebutkan jasa dua orang perempuan luar biasa yang telah menyentuh hidupku. Pertama, ibuku, Connie Brown - sesama penulis, pembimbing, musisi, dan teladanku. Yang kedua adalah istriku, Blythe - sejarawan seni, pelukis, editor jajaran depan, dan tanpa ragu, perempuan yang bakatnya paling menakjubkan yang pernah kukenal.
 
 
 
 Powered by :
Agen Pulsa Listrik Prabayar 24 jam
support: mufaz_plus@yahoo.co.id

pengantar

P  R  O  L  O  G  
 
Museum Louvre, Paris
10:46 Malam
 
KURATOR TERKENAL Jacques Sauniere menatap jauh melintasi selasar berongga Galeri Agung Museum Louvre. Ia menerjang lukisan terdekat yang dapat ia lihat, lukisan Caravaggio. Dengan men­cengkeram bingkai bersepuh emas itu, lelaki berusia 76 itu merenggutkan mahakarya itu ke arah dirinya. Lukisan itu terlepas dari dinding, dan Sauniere terjengkang di bawah kanvasnya.
 
Seperti yang telah ia perkirakan, gerbang besi jatuh bergemu­ruh di dekatnya, menghalangi pintu masuk ke ruangan suite itu. Lantai parket bergetar. Di kejauhan, sebuah alarm mulai berdering.
 
Sang kurator terbaring sebentar, tersengal-sengal, mengum­pulkan tenaga. Aku masih hidup. Ia merangkak keluar dari bawah kanvas, dan memindai ruangan seperti gua itu, mencari-cari tem­pat untuk sembunyi.
 
Seseorang bicara, dekat dan mengerikan. "Jangan bergerak!" Dengan bersitumpu pada lutut dan tangannya, sang kurator membeku, perlahan memalingkan kepalanya ke arah suara itu. Hanya lima belas kaki jauhnya di luar gerbang yang tertutup, sebuah siluet raksasa dari penyerangnya menatap menembus jeruji besi. Lelaki itu sangat lebar dan tinggi, dengan kulit sepucat hantu, dan uban tipis di rambutnya. Bola matanya tampak merah muda, dengan pupil berwarna merah gelap. Si albino mencabut pistol dari jasnya, dan membidikkan moncongnya melewati jeruji, langsung kepada sang kurator. "Kau mestinya tak lari." Aksennya sukar ditentukan dari mana asalnya. "Sekarang, katakan di mana."
 
"Sudah kukatakan," sang kurator cergagap berlutut tak berdaya di lantai galeri. "Aku sama sekali tak mengerti apa yang kaubicarakan!"
 
"Kau bohong." Lelaki albino itu menatapnya, benar-benar tak bergerak, kecuali gerakan matanya yang seperti hantu. "Kau dan kelompok persaudaraanmu memiliki sesuatu yang bukan hak kalian."
 
Sang kurator merasakan desiran adrenalin. Bagaimana mungkin ia tahu hal ini?
 
"Malam ini, para pengawal yang benar-benar berhak akan dipulihkan hak-haknya. Katakan di mana benda itu tersembunyi, dan kau akan hidup." Lelaki itu memakukan pistolnya ke arah kepala sang kurator. "Apakah itu sebuah rahasia yang mesti kau jaga sampai mati?"
 
Sauniere tak dapat bernapas.
 
Lelaki itu memiringkan kepalanya, mengintip lewat barel pistolnya.
 
Sauniere menyilangkan tangannya, mencoba melindungi diri. "Tunggu," katanya perlahan. "Akan kuberi tahu apa yang ingin kau tahu." Sang kurator lalu mengucapkan kata-kata berikutnya dengan hati-hati. Kebohongan yang ia ucapkan itu telah dilatihnya berulang-ulang ... setiap kali melatihnya, ia berdoa agar tak akan pernah menggunakannya.
 
Ketika sang kurator usai bicara, penyerangnya tersenyum dengan angkuh. "Ya. Ini persis seperti kata yang lain padaku." Sauniere menggigil. Yang lain?
 
"Aku menemukan yang lain juga," lelaki besar itu menggoda. "Ketiga-tiganya. Mereka membenarkan apa yang baru saja kau katakan."
 
Tak mungkin! Identitas sejati sang kurator, bersama dengan identitas ketiga senechaux-nya, nyaris sama sucinya dengan rahasia kuno yang mereka jaga. Sauniere kini menyadari bahwa para senechaux-nya, dengan menaati sebuah prosedur yang ketat, telah memberikan dusta yang sama sebelum mati. Ini adalah bagian dari protokol.
 
Si penyerang itu mengarahkan pistolnya lagi. "Ketika kau mati, aku akan menjadi satu-satunya orang yang mengetahui ke­benaran tersebut."
 
Kebenaran. Dalam sekejap, sang kurator menyadari kengerian sesungguhnya dari situasi ini. Jika aku mati, kebenaran akan lenyap selamanya. Secara instingtif, ia mencoba untuk merangkak lari, mencari perlindungan.
 
Pistol menyalak, dan sang kurator merasakan panas yang me­nyengat ketika peluru itu membenam ke dalam perutnya. Ia ter­sungkur ... berjuang melawan rasa sakit. Perlahan, Sauniere ber­guling dan menatap balik pada penyerangnya melalui jeruji besi. Si penyerang kini berancang-ancang meletupkan tembakan mematikan ke kepala Sauniere.
 
Sauniere menutup matanya. Pikirannya adalah pusaran beliung rasa takut dan sesal.
 
Suara klik dari magasin yang kosong bergema melintasi koridor.
 
Mata sang kurator membuka cepat.
 
Si lelaki besar melirik senjatanya, memandangnya dengan hampir-hampir terhibur. Ia menjangkau klip kedua, tapi kemudian tampak menimbang ulang, menyeringai dengan tenang pada isi perut Sauniere. `Aku sudah selesai."          
 
Sang kurator memandang ke bawah, dan melihat lubang peluru pada kemeja linen putihnya. Lubang itu dikicari oleh sebuah lingkaran darah yang kecil, beberapa inci di bawah tulang da­danya. Perutku. Peluru icu meleset dari jantungnya. Sebagai seorang veteran dari La Guerre d' Algerie, sang kurator telah menyaksikan kematian yang mengerikan seperti ini. Ia akan bertahan selama lima belas menit, ketika asam-asam lambungnya merembes ke dalam rongga dadanya, meracuninya dari dalam perlahan-lahan. "Rasa sakit itu baik, Monsieur," ujar si lelaki besar.
 
Kemudian dia pergi.
 
Kini sendirian, Jacques Sauniere memalingkan lagi tatapannya ke gerbang besi. Dia terperangkap, dan pintu-pintu tak akan dapat dibuka kembali paling tidak untuk dua puluh menit lagi. Saat siapa pun mencapai tubuhnya, ia sudah mati. Namun demikian, rasa takut yang sekarang mencengkeram dirinya jauh lebih besar daripada rasa takut akan kematiannya sendiri.
 
Aku harus mewariskan rahasia ini.
 
Sambil menatap kakinya, dia membayangkan ketiga saudara seperkumpulannya yang telah mati. Dia berpikir tentang generasi demi generasi yang telah hidup sebelum mereka ... tentang misi yang telah dipercayakan kepada dirinya dan para saudaranya iru. Sebuah rantai pengetahuan yang tak pernah putus.
 
Kini, lepas dati segala tindakan berjaga-jaga ... lepas dari segala pengamanan data ... Jacques Sauniere tiba-tiba telah menjadi satu-satunya mata rantai yang tersisa, satu-satunya penjaga dari sebuah rahasia paling kuat yang pernah ada.
 
Gemetar, dia merengkuh kakinya. Aku harus menemukan sebuah cara ....
 
Ia terperangkap di dalam Galeri Agung, dan hanya ada satu orang di muka bumi yang dapat ia wariskan obor rahasia ini. Sauniere menatap ke atas, ke dinding-dinding dari penjaranya yang luar biasa ini. Sebuah koleksi dari lukisan-lukisan paling terkenal di dunia tampak seakan tersenyum menatap ke bawah, kepada dirinya, bagai sahabat-sahabat lama.
 
Dengan mengatupkan geraham menahan sakit, ia menghim­pun segala daya dan kekuatan yang masih dia miliki. Dia tahu, tugas yang mendesak di hadapannya membutuhkan setiap detik dari sisa hidupnya.
 
 
 
 
 
 
 
 
 



Powered by :
Agen Pulsa Listrik Prabayar 24 jam
support: mufaz_plus@yahoo.co.id

Respon Kristen atas The Da Vinci Code


Oleh Adian Husaini, PhD
candidate di ISTAC-IIUM Kuala Lumpur
 
Dr Darrell L. Bock, professor Perjanjian Baru di Dallas Theological Seminary, tidak dapat menyembunyikan rasa geramnya, setelah membaca The Da Vinci Code. Katanya, "No longer is The Da Vinci Code a mere piece of fiction. It is a novel clothed in claims of historical truth, critical of institutions and beliefs held by millions of people around the world." Jadi, kata professor ini, Da Vinci Code memang bukan sekadar novel fiksi biasa, tetapi sebuah novel yang diselubungi dengan klaim kebenaran historis dan kritik terhadap institusi dan kepercayaan agama Kristen.
 
Maka, Bock mengerahkan kemampuannya untuk menulis bantahan terhadap novel ini. Melalui bukunya, Breaking the Da Vinci Code (Nashville: Nelson Books, 2004). Bock melakukan kajian historis untuk mengkritik berbagai fakta sejarah yang disajikan Brown.
 
Bock hanyalah satu dari puluhan teolog Kristen yang tersengat The Da Vinci Code. Di toko-toko buku internasional,  kini berjejer puluhan buku yang menyanggah novel itu.
 
Ya, The Da Vinci Code, memang hanya sebuah novel fiksi. Tetapi, novel itu telah menyengat dan menggoncang kepercayaan dalam tradisi Kristen yang telah berumur 2000 tahun. Maka, meski hanya sebuah novel, sebuah cerita fiksi, tetapi dihadapi dengan serius oleh kalangan teolog Kristen.
 
Novel yang dibaca oleh puluhan juta orang di dunia ini bagaimana pun termasuk luar biasa dan digarap dengan riset yang serius. Brown mengklaim bahwa berbagai fakta sejarah seputar Yesus, Maria Magdalena, Opus Dei, The Priori of Sion, yang dipaparkan dalam novelnya adalah 100 persen benar. "Semua deskripsi tentang karya seni, arsitektur, dokumen, dan ritual rahasia yang dipaparkan dalam novel ini adalah akurat," tulis Brown dalam pembukaan novelnya.
 
Mengapa novel ini begitu menyengat para teolog Kristen??? Itu tidak lain, karena novel ini memaparkan fakta-fakta baru tentang Yesus yang membongkar dasar-dasar kepercayaan Kristen yang bertahan selama 2000 tahun. Dalam Kristen, dogma pokok dan paling inti adalah kepercayaan tentang kebangkitan Yesus (resurrection). Bahwa setelah mati di tiang salib, Yesus bangkit pada hari ketiga untuk menebus dosa umat manusia. Dalam Bible Perjanjian Baru disebutkan, bahwa saksi pertama kebangkitan Yesus – yang menyaksikan kubur Yesus kosong – adalah seorang wanita bernama Maria Magdalena.
 
Anak Cucu Yesus
Jika dasar kepercayaan ini dibongkar, maka runtuhlah agama Kristen. Paul Young, dalam bukunya, Christianity, menulis, bahwa tanpa resurrection, maka tidak ada "kekristenan". Ibarat potongan-potongan gambar (jigsaw), maka jika resurrection dibuang, jigsaw itu tidak akan membentuk apa yang disebut sebagai Christianity.
 
"We can not remove a portion of the Christian jigsaw labelled "resurrection" and leave anything which is recognizable as Christian faith. Subtract the resurrection and you destroy the entire picture." (Paul Young, Christianity, London: Hodder Headline Ltd, 2003).
 
Nah, the Da Vinci Code adalah sebuah novel yang memporak-porandakan sebuah susunan gambar yang bernama Kristen itu. Betapa tidak, dalam novel ini, misalnya digambarkan bahwa sebelum disalib Yesus sebenarnya sempat mengawini Maria Magdalena dan mewariskan gerejanya kepada Maria Magdalena, bukan kepada Santo Petrus yang kemudian melanjutkan pendirian Gereja di Roma. Bahkan, bukan hanya kawin, Yesus pun punya keturunan dari Maria Magdalena, yang karena takut dikejar-kejar murid-murid Yesus maka melarikan diri ke Perancis. Keturunan Yesus itu masih tetap ada hingga kini, dan selama ratusan tahun memelihara tradisi Gereja garis Maria Magdalena. Rahasia ini masih tetap dipegang, dan  disimpan dengan sangat ketat. Selama ratusan tahun itu pula, gereja Katolik berusaha memburu para penganut Gereja Maria Magdalena dan membantai anak keturunan Yesus yang dikhawatirkan mengancam kekuasaan Gereja Katolik dan Gereja-gereja yang menuhankan Yesus.
 
Dalam novelnya, cerita dan fakta sejarah seputar Yesus dihadirkan melalui dialog tokoh-tokohnya, sehingga terkesan sebagai ungkapan realitas sejarah. Karena itu, dalam beberapa iklannya, buku ini digambarkan sebagai "memukau logika dan menggoyang iman." Bukan itu saja. Melalui The Da Vinci Code, Brown juga membangun citra buruk Vatikan dengan nyaris "sempurna". Bagaimana, misalnya, Paus mendukung aktivitas Opus Dei, sebuah kelompok Katolik yang tidak segan-segan melakukan pembunuhan dengan kejam dalam menjalankan misinya.
 
Sebut misalnya, sebuah dialog antara agen Sophie Neveu, agen rahasia Perancis yang juga keturunan Maria Magdalena, dengan Leigh Teabing, seorang yang digambarkan sebagai bangsawan Inggris dan pakar sejarah Kristen. Sophie hanya terbengong-bengong mendapatkan berbagai fakta baru seputar Yesus dari Teabing. Ia sulit menolak bukti yang disodorkan Teabing dari Gnostic Bible, bahwa Yesus memang mengawini Mary Magdalena dan mempunyai keturunan. Di Gospel of Philip, misalnya tertulis :
 
 "And the companion of the Saviour is Mary Magdalene. Christ loved her more than all the disciples and used to kiss her often on her mouth. The rest of the disciples were offended by it and expressed disapproval. They said to him, "Why do you love her more than all of us?"
 
Jadi, kata Bible ini, Yesus mempunyai pasangan bernama Mary Magdalena dan terbiasa mencium Maria di bibirnya. Yesus mencintai Magdalena lebih dari pengikutnya yang lain, sehingga menyulut rasa iri hati. Itulah yang akhirnya memicu pelarian Mary Magdalena dari Yerusalem ke Perancis dengan bantuan orang-orang Yahudi. Dalam bahasa Aramaic, kata "companion" menurut Teabing, bisa diartikan sebagai "pasangan". Sophie yang membaca bagian-bagian berikutnya dari Bible Philip itu menemukan fakta betapa romantisnya hubungan Yesus dengan Maria Magdalena. Ia lalu mengingat masa silamnya, ketika para pendeta Perancis mendesak pemerintahnya untuk melarang peredaran film The Last Temptationn of Christ; sebuah film garapan Martin Scorsese yang menggambarkan Yesus mengadakan hubungan seks dengan seorang wanita bernama Maria Magdalena.
 
Dalam diskursus gender equality saat ini, wacana tentang pewarisan Gereja oleh Yesus kepada seorang wanita tentu saja sangat menarik. Sebab, hingga kini, gereja Katolik tetap tidak mengizinkan wanita menjadi pastor. Begitu juga dengan doktrin "larangan menikah bagi pastor" (celibacy), masih tetap dipertahankan, meskipun sekarang mulai banyak para teolog Katolik yang menggugat larangan kawin ini. Prof Hans Kung, misalnya, melalui bukunya, The Catholic Church : A short history (New York: Modern Library, 2003), menyebut doktrin celibacy bertentangan dengan Bible (Matius, 19:12, 1 Timotius, 3:2). Doktrin ini, katanya, juga menjadi salah satu sumber penyelewengan seksual di kalangan pastor. Pendukung novel Dan Brown tentu akan setuju dengan gagasan Prof Hans Kung dan ide bolehnya wanita menjadi pastor. Logikanya, jika Yesus saja kawin dan mewariskan gerejanya kepada wanita, maka mengapa pengikutnya dilarang kawin dan melarang wanita menjadi pastor.
 
"Yesus Seminar"
Sebenarnya gagasan Dan Brown bukanlah hal baru. Tahun 1982, terbit buku Holy Blood, Holy Grail, yang bercerita tentang perkawinan Yesus dengan Mary Magdalene dan punya anak keturunan. Bahkan, soal kebangkitan Yesus itu sendiri menjadi perdebatan yang panas di kalangan teolog. Apakah kebangkitan itu benar-benar terjadi, atau sekedar cerita; apakah kebangkitan itu bersifat objektif atau subjektif.
 
Sejak tahun 1985, misalnya, sudah dimulai penyelidikan Yesus Sejarah yang lebih dikenal dengan nama 'Jesus Seminar' di Amerika Serikat. Mereka meragukan fakta historis, bahwa Yesus bangkit. Kelompok ini dimotori oleh John Dominic Crossan dan Robert W Funk yang disponsori oleh Westar Institute. Mereka mengadakan seminar-seminar di sejumlah kota di AS dan menerbitkan berbagai buku seperti The Five Gospel, The Acts of Jesus, dan The Gospel of Jesus.
 
Sejak ratusan tahun lalu, perdebatan tentang Yesus memang tidak pernah berhenti. Masalahnya, tidak mudah menjelaskan dengan logika yang masuk akal, bahwa Yesus adalah Tuhan sekaligus manusia. Sejak awal-awal kekristenan, sudah muncul kelompok Arius yang menolak pendapat bahwa Yesus adalah Tuhan. Arius dan pengikutnya dikutuk Gereja.
 
Dalam bukunya, Who Killed Jesus (New York : Harper Collins Publishers, 1995), John Dominic Crossan, menulis cerita tentang kubur Yesus yang kosong adalah "satu cerita tentang kebangkitan dan bukan kebangkitan itu sendiri." Cerita tentang Yesus seperti tertera dalam Bible, menurut Crossan, disusun sesuai dengan kepentingan misi Kristen ketika itu. Termasuk cerita seputar penyaliban dan kebangkitan Yesus.
 
Perdebatan seputar Yesus bahkan pernah menyentuh aspek yang lebih jauh lagi, yakni mempertanyakan, apakah sosok Yesus itu benar-benar ada atau sekadar tokoh fiktif dan simbolik? Pendapat seperti ini pernah dikemukakan oleh Arthur Drews (1865-1935) dan seorang pengikutnya William Benjamin Smith (1850-1934). Bahkan, perdebatan seputar Yesus itu kadangkala sampai menyentuh moralitas Yesus sendiri dalam aspek seksual. Soal ketidakkawinan Yesus misalnya: karena tidak mampu, karena tidak ada wanita, atau karena homoseks.
 
The Times, edisi 28 Juli 1967, mengutip ucapan Canon Hugh Montefiore, dalam konferensi tokoh-tokoh gereja di Oxford tahun 1967: "Women were his friends, but it is men he is said to have loved. The stricking fact was that he remained unmarried, and men who did not marry usually had one of three reasons: they could not afford it, there were no girls, or they were homosexual in nature."
 
Jadi, wacana tentang Yesus dalam dunia akademis memang sudah bertebaran. Kelebihan Dan Brown adalah mampu mengangkat wacana itu ke dalam sebuah novel populer. "Ramuan yang tepat" antara fakta sejarah dan fiksi menjadikan novel ini memang berpotensi besar mengguncang kepercayaan iman Kristen. Apalagi, masyarakat Barat memang dikenal hobi dengan mitos dan legenda. Mereka tak henti-hentinya menciptakan berbagai fiksi dan mitos dalam kehidupan mereka : Superman, Batman, Spiderman, Rambo. Persis seperti nenek moyang mereka di Yunani Kuno. Kita tunggu saja, bagaimana kehebohan terjadi saat the Da Vinci Code muncul dalam bentuk film.
 
Sumber : majalah Insan, April 2005
 
ROBERT LANGDON terbangun dengan terkejut. Dia telah bermimpi. Mantel mandinya di sisi tempat tidurnya bermonogram HOTEL RITZ PARIS. Dia melihat lampu redup menyelinap dari balik tirai. Ini sore atau fajar?
 
Tubuh Langdon terasa hangat dan sangat puas. Dia telah tidur dengan lebih baik sejak dua hari yang lalu. Sambil duduk perlahan di atas pembaringannya, sekarang dia sadar apa yang telah membangunkannya ... pikiran yang paling aneh. Selama berhari-hari dia telah berusaha memilah informasi yang datang bertubi­rubi, tetapi sekarang Langdon merasa yakin akan sesuaru yang tak pernah dia perhitungkan sebelumnya.
 
Mungkinkah itu?
 
Dia tetap tak bergerak untuk waktu lama. Lalu dia bergerak turun, kemudian berjalan ke kamar mandi pualam. Langdon melangkahkan kakinya memasuki bilik, membiarkan cucuran air yang deras memijat punggungnya. Namun, pikiran itu masih mengganggunya. Tidak mungkin.
 
Dua puluh menit kemudian, Langdon keluar dari Hotel Ritz memasuki Place Vendome. Malam turun. Tidur berhari-hari telah membuatnya agak kacau ... namun pikirannya terasa encer, anehnya. Dia telah bertekad akan berhenti di lobi hotel untuk minum kopi susu supaya pikirannya menjadi jernih, namun ternyata kakinya langsung membawanya ke pintu depan dan menyatu dengan malam Paris.
 
Berjalan ke arah timur ke Rue des Petits Champs, Langdon merasa tambah bersemangat. Lalu dia berbelok ke selatan memasuki Rue Richelieu. Di sana udara terasa semerbak oleh aroma melati dari taman-taman di Palais Royal.
 
Dia terus berjalan ke arah utara hingga dia melihat apa yang dicarinya gang beratap yang megah dan terkenal itu - sebuah pualam hitam berkilap yang luas. Masuk ke dalamnya, Langdon mengamati permukaan di bawah kakinya. Dalam beberapa detik, dia menemukan apa yang dia tahu memang ada di sana ---- beberapa medali perunggu yang ditanam di lantai, disusun menjadi garis lurus sempurna. Setiap cakram berdiameter lima inci dan diembos dengan huruf N dan S.
 
Nord. Sud. Utara. Selatan
 
Langdon harus  berbelok ke selatan, membiarkan matanya mengikuti garis yang tertera yang terbentuk dari deretan medali­medali tersebut. Dia lalu bergerak lagi, mengikuti jalan itu, sambil mengamati tepian jalan. Ketika dia memotong ke sudut Comedi Francais, ada medali perunggu lain lagi yang dilangkahinya. Ya! Langdon telah tahu sejak beberapa tahun yang lalu, jalanjalan di Paris dihiasi 135 penanda dari perunggu ini, yang ditanam di tepi-tepi jalan, halaman-halaman bertembok, dan jalan­jalan, pada poros utara-selatan kota itu. Dia pernah mengikuti garis itu dari Sacre-Coeur, menyeberangi Sungai Seine, dan akhirnya ke Observatorium Paris kuno. Di sana dia menemukan sesuatu yang penting dari jalan suci itu.
 
Meridian utama bumi yang asli.
 
Bujur nol pertama di dunia.
 
Garis Mawar kuno Paris.
 
Sekarang; ketika bergegas menyeberangi Rue de Rivoli, Lang­don dapat merasakan rujuannya sudah dekat. Kurang dari satu blok lagi.
 
Holy Grail menanti di bawah Roslin kuno.
 
Kesadaran iru kini datang bergelombang. Pengejaan kuno atas Roslin yang dibuat Sauniere ... mata pedang dan cawan ... makam yang dihiasi seni para pakar.
 
Apakah karena itu Sauniere merasa perlu berbicara denganku? Apakah tanpa kusadari aku telah menebak kebenaran itu? Langdon berlari kecil, sambil merasakan Garis Mawar di bawah kakinya, memandunya dan mendorongnya ke tujuannya. Ketika dia memasuki terowongan panjang Passage Richelieu, bulu lehernya mulai merinding karena harapan. Langdon tahu, pada ujung terowongan ini berdiri monumen Paris yang paling misterius-dibangun dan diresmikan pada tahun 1980 oleh Sang Sphynx sendiri, Francois Mitterand, orang yang digosipkan bergerak dalam lingkaran rahasia, seorang lelaki yang warisan terakhirnya bagi Paris dikunjungi Langdon beberapa hari yang lalu. Kehidupan yang lain.
 
Dengan sisa tenaga terakhirnya, Langdon berlari dari jalan tecusan itu memasuki halaman yang sudah dikenalinya, lalu berhenti. Tersengal-sengal, dia menaikkan matanya, perlahan, tidak percaya, ke bangunan yang berkilauan di depannya.
 
Piramid. Louvne.
 
Berkilauan dalam kegelapan.
 
Dia mengaguminya hanya sesaat. Dia lebih tertarik pada apa yang ada di sebelah kanannya. Saat berbelok, Langdon merasakan kakinya menapaki lagi garis jalan yang tak terlihat, Garis Mawar kuno. Garis itu membawanya menyeberang ke Carrousel du Louvre -  bundaran besar yang dikelilingi oleh pagar tumbuhan yang dipotong rapi - yang dulu pernah menjadi tempat melaksanakan pesta-pesta pemujaan alam pada zaman purbakala ... ritus-ritus gembira untuk merayakan kesuburan dan Dewi.
 
Langdon merasa seolah sedang melintasi dunia lain ketika dia melangkah melintasi semak ke area berumput di dalamnya. Tanah keramat ini sekarang ditandai oleh salah satu monumen yang paling dahsyat di kota itu. Di bagian tengahnya, menempel pada bumi seperti ngarai kristal, menganga piramid kaca raksasa yang terbalik, yang sudah dilihatnya beberapa malam lalu ketika dia memasuki ruang bawah tanah Louvre.
 
La Pyramide Inversee.
Dengan gemetar, Langdon berjalan ke tepi dan melongok ke bawah ke dalam kompleks bawah tanah Louvre itu, dengan cahaya berwarna kekuningan. Matanya terlatih tidak saja pada piramid terbalik yang besar itu, tetapi juga pada apa yang terletak tepat di bawahnya. Di sana, pada lantai ruangan di bawahnya, berdiri sebuah bangunan terkecil ... sebuah struktur yang telah disebutkan Langdon dalam naskahnya.
 
Langdon merasa dirinya sekarang sudah siap sepenuhnya menghadapi kemungkinan kejadian menggetarkan yang tak terduga. Dia menaikkan matanya lagi ke Louvre, merasakan bagian sayap museum itu membungkusnya ... ruang masuk yang berhiaskan seni-seni terbaik dunia.
 
Da Vinci.,. Botticelli ...
 
Berhiaskan adikarya para seniman ulung, Dia membujur.
 
Langdon tersadar dengan keheranan, lalu dia melihat. ke bawah lagi, melalui piramid kaca, ke struktur kecil di bawahnya. Aku harus turun ke sana.
 
Lalu Langdon keluar dari lingkaran itu dan bergegas melintasi halaman, kembali ke pintu masuk Louvre berbentuk piramid yang menjulang. Para pengunjung terakhir hari itu sedikit-sedikit keluar dari museum.
 
Langdon mendorong pintu putar, lalu menuruni tangga leng­kung masuk ke piramid itu. Dia dapat merasakan udara menjadi semakin dingin. Ketika tiba di dasar, dia memasuki terowongan panjang yang terentang di bawah halaman Louvre, kembali ke arah La Pyramide Inversie, piramid terbalik itu.
 
Di ujung terowongan, dia tiba di sebuah ruangan besar. Tepat di deparinya, tergantung dari atas, berkilauanlah piramid terbalik yang sangat mengagumkan, berbentuk V dari kaca.
 
Cawan.
 
Mata Langdon mengikuti bentuk menyempit ke bawah hingga ke ujungnya, tergantung hanya enam kaki dari atas lantai. Di sana, tepat di bawahnya, berdiri sebuah struktur kecil.
 
Sebuah miniatur piramid. Hanya setinggi tiga kaki. Satu­satunya bangunan dalam kompleks bangunan kolosal ini yang berukuran kecil.
 
Naskah Langdon, saat membicarakan koleksi kesenian dewi milik Museum Louvre, telah membuat catatan sambil lalu tentang piramid sederhana ini. "Bangunan miniatur itu sendiri menonjol ke atas dari lantai seolah merupakan puncak gunung es puncak dari ruang bawah tanah berbentuk piramid yang besar sekali, melesak ke bawah seperti ruang tersembunyi. "
 
Disinari oleh cahaya lembut dalam ruangan masuk yang sunyi, kedua piramid itu saling menunjuk; tubuh keduanya lurus dengan sempurna, puncak-puncaknya hampir bersentuhan.
 
Cawan di atas. Mata pedang di bawah.
 
Mata pedang dan cawan berjaga di muka gerbang-Nya.
 
Langdon mendengar kata-kata Marie Chauvel. Suatu hari nanti ia akan menyingsing di hadapanmu.
 
Dia sedang berdiri di bawah Garis Mawar kuno, dikelilingi oleh karya seni para pakar. Tempat mana lagi yang terbaik bagi Sauniiere untuk menjaganya? Sekarang, akhirnya, dia merasa telah mengerti arti sebenarnya puisi Mahaguru. Dia menaikkan matanya ke atas, menatap melintasi kaca ke langit malam yang penuh bintang.
 
Dia bersemayam di bawah angkasa penuh bintang.
 
Seperti gumam dari jiwa jiwa dalam kegelapan, kata-kata yang terlupakan menggema. Pencarian Holy Grail adalah pencarian untuk berlutut di depan tulang belulang Maria Magdalena. Sebuah perjalanan untuk berdou pada kaki sang terbuang.
 
Dengan petunjuk yang tiba-tiba muncul itu, Robert Langdon jatuh berlutut.
 
Untuk sesaar, dia mengira telah mendengar suara seorang perempuan ... sebuah kearifan kuno ... berbisik dari jurang bumi.
 


Powered by :
Agen Pulsa Listrik Prabayar 24 jam
support: mufaz_plus@yahoo.co.id

PEMICU KEGONCANGAN ITU


Oleh Ain Muhammadi
 
Obrolan sensitif tiga tokoh fiktif dalam fiksi sejarah The Da Vinci Code menjungkirbalikkan pemahaman mapan Gereja Katolik. Berikut beberapa diantaranya:
 
 Konstantin mensponsori Alkitab
 
Raja Roma Konstantin menitahkan dan membiayai penyusunan sebuah alkitab baru, yang meniadakan semua ajaran yang berbicara tentang perilaku manusiawi Yesus, serta memasukkan ajaran yang membuatnya seakan Tuhan. Injil dan dokumen yang mencatat kehidupan Yesus sebagai manusia biasa dikumpulkan dan dibakar.
 
"Yesus Tuhan" adalah hasil voting
 
Penetapan Yesus sebagai putra Tuhan bukanlah bersumber dari ajaran Yesus, melainkan dari hasil voting yang terjadi pada Konsili Nicaea. Penetapan ini tidak lepas dari kepentingan politik Konstantin. Gereja masa awal telah mencuri Yesus dari pengikut aslinya, dengan membajak pesan-pesan manusiawinya, mengaburkannya dalam jubah ketuhanan.
 
Perempuan di Jamuan Terakhir
 
Tidak semua yang duduk di meja dalam Perjamuan Terakhir adalah laki-laki. Satu dari tiga belas orang dalam lukisan tersoho The Last Supper karya Leonardo Da Vinci adalah perempuan, yaitu Maria Magdalena. Maria duduk tepat di sisi kanan Yesus. Maria adalah sosok Yahudi ningrat dari klan Benjamin yang tidak lain adalah istri Yesus.
 
Maria Pewaris Gereja
 
Pada Perjamuan Terakhir, Yesus telah menduga akan ditangkap dan disalib. Maka ia memberi Maria instruksi bagaimana melanjutkan Gerejanya. Yang diberi petunjuk adalah Maria, bukan Peter. Peter tidak puas karena dinomorduakan di bawah perempuan. Dalam lukisan Da Vinci, Peter mencondongkan tubuh ke arah Maria seolah mengancam.
 
Cawan Suci adalah Maria
 
Cawan suci adalah kiasan untuk Maria Magdalena, perempuan yang mewadahi darah Yesus, mengandung keturunan Yesus Kristus. Dalam diri Maria mengalir tiga kekuatan luar biasa. Kekuatan sebagai pengemban titak Yesus untuk mengembangkan ajarannya, kekuatan sebagai istri yang mengandung anak Yesus, dan kekuatan sebagai keturunan raja Yahudi. Gereja, untuk membela diri dari kekuatan Magdalena, mengabadikan profil Magdalena sebagai pelacur dan menguburkan bukti-bukti pernikahan Kristus dengan perempuan ini. Gereja menghancurkan segala kemungkinan Yesus kawin dan mempunyai keturunan.
 
Anak cucu Yesus ada di Perancis
 
Maria Magdalena hamil saat penyaliban Yesus. Untuk keamanan Maria tidak punya pilihan lain kecuali melarikan diri dari Tanah Suci. Dengan bantuan paman Yesus yang bisa dipercaya, Josef dari Arimatea, ia diam-diam pergi ke Perancis. Disana ia melahirkan anak perempuan bernama Sarah. Pada abad ke-5, keturunan Yesus menikah dengan bangsawan Perancis, menciptakan garis keturunan Merovingian. Klan inilah yang mendirikan kota Paris.
 
Gereja menghabisi keturunan Yesus
 
Gereja terdahulu takut jika garis keturunan itu dibiarkan tumbuh, rahasia yang ditutup rapat akan terkuak, sehingga meruntuhkan doktrin fundamental Katolik. Di akhir abad ke-7 Vatikan bekerjasama dengan Pepin d'Heristal membunuh raja Perancis Dagobert. Pembunuhan Dagobert menyebabkan keturunan Merovingian hampir musnah. Namun putra Dagobert, Sigisbert, berhasil lolos dan melanjutkan garis keturunan Merovingian. Salah satu keturunannya adalah Godefroi de Bouillion.
 
Biarawan Sion dan Ksatria Templar
 
Biarawan Sion didirikan tahun 1099 di Yerusalem oleh Raja Perancis Godefroi de Boullion, dengan misi menyelamatkan dan melindungi Holy Grail: dokumen rahasia tentang Maria Magdalena, keturunannya, dan ajaran Kristen sejati. Untuk kepentingan itu, dibentuklah Ksatria Templar. Dalam perkembangannya pengaruh Templar meluas di Eropa. Paus Clement V yang tidak suka dengan perkembangan ini bersiasat dengan Raja Perancis Philippe IV, untuk membubarkan templar dan merampas harta mereka. Paus mengeluarkan perintah rahasia dalam kertas bersegel yang hanya boleh dibuka oleh prajuritnya di seluruh Eropa pada hari Jumat, 13 Oktober 1307. Maka pada hari itu, ksatria-ksatria yang tak terhitung jumlahnya ditangkap, disiksa secara kejam, dan akhirnya dibakar di tiang pembakaran sebagai pelaku bidah. Hingga kini Jumat 13 dianggap hari sial.
 
Holy Grail
 
Karena represi Gereja, Biarawan Sion bergerak sebagai kelompok persaudaraan rahasia. Mereka terus menjaga kerahasiaan Holy Grail, dan mewariskan rahasia itu turun temurun hingga era modern kini, melalui rangkaian pesan tersembunyi dalam anagram dan simbol. Termasuk dalam kelompok Persaudaraan Sion adalah Sir Isaac Newton, Botticelli, Victor Hugo, dan Leonardo Da Vinci.
 
(sumber : majalah Insani, April 2005)
 

Powered by :
Agen Pulsa Listrik Prabayar 24 jam
support: mufaz_plus@yahoo.co.id